Dear kamu, yang kini entah sedang melakukan apa kamu, yang entah sedang bersama siapakah kamu, yang entah apakah pernah ada satu sudut ruang di dalam pikiranmu untuk memikirkanku…

Aku ingin bilang padamu:

“Aku mencintaimu!”

“Aku membutuhkanmu!”

“Sudah berbulan-bulan ini hanya kamu yang ada di dalam pikiranku.”

“Jadi, semua kuawali dari pertemuan kita. Dalam suatu masa yang kukira biasa saja. Tegur sapa sederhana dan kemudian semakin lama aku semakin menyukaimu. Kamu yang sempurna, meski sederhana.”

“Jadi, kemudian aku mulai mencari-cari bagaimana caranya untuk berbincang denganmu, mengetahui seperti apakah dirimu, bagaimana pola pikirmu. Dan, lelakiku. Semakin aku tahu bagaimana kamu, semakin aku tahu aku menginginkanmu.”

“Sungguh, kamu adalah lelaki yang paling bisa melengkapi segala inginku. Pintarmu, hebatmu, lucumu, manjamu… Sempurnamu. Kamu, seperti kepingan puzzle-ku yang hilang, dan kini melengkapiku.”

“Mungkin tidak pernah kamu tahu betapa setiap berbincang denganmu adalah seperti menyesap sedikit larutan Surga yang melegakan tenggorokanku. Menagih, lagi dan lagi. Ingin, terus dan terus.”

“Tapi, Lelakiku, aku tak pernah berani. Aku tak bisa kehilanganmu kalau kamu tahu degup jantungku yang berdegup terlampau kencang bila di dekatmu. Maka, jangan berdiri terlalu dekat. Aku takut, kamu bakal tahu.”

“Meskipun, ya… Seringkali aku ingin kamu bisa meraba isi pikiranku, tanpa perlu kuuntai padamu. Dan tentunya, yang kuinginkan setelah kamu tahu adalah… kamu juga menginginkanku, lebih dari sekadar seorang teman memuja teman yang lainnya.”

“Aku ingin memilikimu!”

“Aku tahu, aku bukanlah perempuan secantik mereka yang pernah hadir dalam hidupmu. Perempuan-perempuan sempurna, dengan wajah sempurna dan tubuh sempurna, yang pernah mengisi hatimu, yang memang pernah meremukkan hatimu tapi tetap selalu tinggal dalam ruang-ruang hatimu. Aku perempuan yang tak bisa seperti mereka, asal kamu tahu. Tapi aku bisa mencintaimu lebih dari mereka, asal kamu tahu.”

“Ya, aku bisa mencintaimu lebih dari yang bisa mereka lakukan. Karena, ya… cintaku padamu tak mengenal masa kadaluarsa. Karena, ya. Cintaku padamu tak mengenal musim apapun juga. Selalu untukmu. Selamanya, untukmu.”

“Aku mencintaimu.”

“Sangat mencintaimu.”

“Sangat membutuhkanmu. Menjadi lelakiku.”

“Dan menginginkanmu berkata, ‘Jadilah perempuanku’.”

Dear kamu, yang kini entah sedang melakukan apa kamu, yang entah sedang bersama siapakah kamu, yang entah apakah pernah ada satu sudut ruang di dalam pikiranmu untuk memikirkanku…

Jika tiba masanya keberanianku itu mengumpul di ujung lidahku,

akan aku katakan semua kalimat-kalimat itu.

Semua kalimat-kalimat yang kutulis di atas tadi, persis di depan wajahmu. Wajah tampanmu.

Ya…

Jika memang tiba masanya; masa yang aku takut tidak akan pernah tiba…

Selamanya.

 

**

Kamar, Minggu, 3 April 2011, 11.03 Malam